Beberapa waktu lalu, sebagian daerah di Indonesia dilanda banjir yang cukup parah akibat dari tingginya intensitas air hujan. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Anung Sugihantono menyebut, air hujan atau banjir bisa menyebabkan penyakit zoonosis seperti Leptospirosis.

Leptospirosis  sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh Leptospira Interrogans, yang tersebar berasal dari urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Ada beberapa hewan yang dapat membawa penyakit Leptospirosis seperti anjing, tikus, sapi, dan babi. Hewan yang paling banyak membawa penyakit Leptospirosis terutama saat banjir adalah tikus.

Tanda-tanda yang mengindikasi orang terjangkit Leptospirosis adalah mengalami flu ringan, sakit pada kepala, dan tubuh menggigil. Biasanya tanda-tanda terinfeksinya baru muncul dua minggu, atau bahkan baru muncul satu bulan setelahnya  dan bisa juga tidak ada gejala tersebut sama sekali.

Lebih parahnya lagi, gejala yang dirasakan jika bakteri menginfeksi beberapa bagian organ tertentu seperti ginjal, hati, paru-paru, jantung, dan otak. Penyakit terparah akibat Leptospirosis itu Weil, infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan organ hingga berujung pada kematian.

Jika sudah terjangkit penyakit Weil, dibutuhkan penangan medis ekstra untuk menyembuhkannya. Untuk pengobatan terhadap Leptospirosis, dokter akan memberi obat antibiotik dan obat nyeri.

Mengantisipasi Penyakit Leptospirosis

1. Basmi tikus yang berada di rumah Anda.

2. Jangan bermain air saat banjir (terutama yang memiliki luka).

3. Gunakan alas kaki, seperti sepatu anti air, bila harus ke daerah banjir.

4. Segera untuk berobat ke klinik atau tempat kesehatan terdekat bila sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil.

Upaya laiinya untuk mencegah Leptospirosis dengan Anda menghindari air yang sudah kotor atau terkontaminasi dan selalu pastikan kebersihan air sebelum Anda mengkonsumsi air tersebut.